Happy 3rd Anniversary!! :’))
Blog = a shared on-line journal where people can post diary entries about their personal experiences and hobbies
Bocah Umur 7 Tahun Berjualan Bakso Usai Sekolah Demi Bertahan Hidup
Kemiskinan membuat seorang bocah tujuh tahun di Lebak, Banten, memilih berjualan bakso untuk bertahan hidup dengan ibunya. Kendati harus bekerja dan kerap diledek temannya, si bocah tetap berprestasi di sekolah.
Kemiskinan membuat seorang bocah tujuh tahun di Lebak, Banten, memilih berjualan untuk bertahan hidup dengan ibunya. Sepulang sekolah, Siti menuju rumah tetangganya untuk mengambil bakso yang kemudian dijual.Dengan kedua tangan kecilnya, Siti mengangkat barang dagangannya berkeliling kampung. Bagi Siti, rasa lelahnya selalu terbayar setiap ada warga yang memanggilnya. Membersihkan mangkok, sendok, dan menuangkan bakso, dilakukannya dengan cekatan.
Uang yang didapat disimpannya dengan rapi.Dalam sehari, gadis kecil tersebut bisa menempuh jarak 10 kilometer dan berjalan selama tiga jam. Kendati lelah, ia selalu melayani pembeli dengan baik dan tak lupa mencuci mangkok baksonya. Jika beruntung, baksonya habis terjual. Siti pun bisa mendapatkan bayaran meski hanya selembar Rp 2.000. Namun uang ini diberikannya pada sang ibu yang hanya buruh tani biasa.Meski harus mencari uang dengan berjualan bakso, di sekolah, Siti termasuk murid yang giat belajar dan pintar terutama di pelajaran matematika.
Ledekan teman-temannya karena ia kerap berjualan bakso tak diindahkannya. Siti belajar dan dengan ikhlas membantu ibunya atas kemauannya sendiri.Siti sudah yatim sejak berusia dua tahun. Kakak laki-lakinya sudah satu tahun tidak pulang ke rumah. Selama satu tahun terakhir inilah, atas kemauannya sendiri, Siti berjualan bakso untuk membantu ibunya.
Seorang Nenek Mencuri Singkong Karena Kelaparan. Hakim Menangis Saat Menjatuhkan Vonis
Diruang sidang pengadilan, hakim Marzuki duduk tercenung menyimak tuntutan jaksa PU terhadap seorangg nenek yang dituduh mencuri singkong, nenek itu berdalih bahwa hidupnya miskin, anak lelakinya sakit, cucunya lapar. Namun manajer PT A**** K**** (B**** grup) tetap pada tuntutannya, agar menjadi contoh bagi warga lainnya.
Hakim Marzuki menghela nafas, dia memutus diluar tuntutan jaksa PU, ‘maafkan saya’, katanya sambil memandang nenek itu, ‘saya tak dapat membuat pengecualian hukum, hukum tetap hukum, jadi anda harus dihukum. saya mendenda anda 1juta rupiah dan jika anda tidak mampu bayar maka anda haus masuk penjara 2,5 tahun, seperti tuntutan jaksa PU’. Nenek itu tertunduk lesu, hatinya remuk redam, sementara hakim Marzuki mencopot topi toganya, membuka dompetnya kemudian mengambil dan memasukkan uang 1juta rupiah ke topi toganya serta berkata kepada hadirin. “Saya atas nama pengadilan, juga menjatuhkan denda kepada tiap orang yang hadir di ruang sidang ini sebesar 50ribu rupiah, sebab menetap di kota ini, yang membiarkan seseorang kelaparan sampai harus mencuri untuk memberi makan cucunya, saudara panitera, tolong kumpulkan dendanya dalam topi toga saya ini lalu berikan semua hasilnya kepada terdakwa.” Sampai palu diketuk dan hakim marzuki meninggaikan ruang sidang, nenek itupun pergi dengan mengantongi uang 3,5 juta rupiah, termasuk uang 50ribu yang dibayarkan oleh manajer PT A****K**** yang tersipu malu karena telah menuntutnya.
Sungguh sayang kisahnya luput dari pers. Kisah ini sungguh menarik sekiranya ada teman yang bisa mendapatkan dokumentasi kisah ini bisa di share di media untuk jadi contoh kepada aparat penegak hukum lain untuk bekerja menggunakan hati nurani dan mencontoh hakim Marzuki yg berhati mulia.
Source : dikutip dari link : http://masuta-fenesia.blogspot.com/2012/03/seorang-nenek-mencuri-singkong-karena.html dalam Facebook Ronald Atasi *Thanks Nal* (http://www.facebook.com/ronald.atasi)
Life is about struggle.. I’ve become a real commuter.
Pagi ini saya berangkat menuju kantor di daerah Monas. Seperti biasa, saya berangkat Pk06.15 dari rumah di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur. Hari ini saya ingin mencoba naik dari Stasiun Buaran turun di Stasiun Gambir dengan KRL Bekasi-Jakarta Kota. Pk6.50 saya sampai di stasiun Buaran. Suasana hati begitu senang karena berharap datang lebih cepat ke kantor dan pulang juga lebih awal dari kemarin. Perkiraan tiba di kantor adalah Pk7.30 J -kemarin saya tiba Pk08.12 WIB.
Sampai di stasiun, ke loket, menanyakan kereta yang duluan datang. O-oow, ternyata KRL ekonomi duluan datang, 17 menit lebih awal dari kereta AC. Dengan memertimbangkan ini dan itu saya merancang rute hari ini dalam 1 menit : Buaran-Jatinegara dengan ekonomi, Jatinegara-Tn.Abang dengan KRL AC, Tn.Abang-kantor dengan angkot/ojek/bajaj. Yak, sempurna.
Ting nong..ning nong..Ting nong..ning nong. Bunyi khas tanda kereta mau lewat terdengar jelas. Sampailah kereta Ekonomi yang saya tunggu. Ebuset. –agak melongo- keretanya penuh sesak manusia sampai keluar-luar bergelantungan. |Am I going to ride with this tr…? |Okey, Irene, jangan banyak ngeluh. Nanti telat ngantor. Jadilah saya belari kecil menuju pintu kereta terdekat. Beberapa orang turun dari kereta dan…banyak banget yang mau naik! Orang di depan saya sedang ‘memaksa’ tubuhnya untuk masuk. Saya sendiri linglung dan celingak celinguk karena tidak ada ruang bagi kaki saya untuk naik ke dalam kereta. Itu ruang untuk KAKI saya aja gak ada loh, badan saya belum tau mau disempilin dimana. Datang orang dari belakang saya –dengan nada seperti menyemangati-, “Ayo, masuk aja,Mbak!”. Sedetik kemudian, tangannya yang kuat mendorong punggung saya. Maksud saya ‘mendorong’ disini adalah benar-benar mendorong, dengan kekuatan penuh memaksakan supaya saya bisa masuk. Syukurlah saya tidak kehilangan napas! Fiuh. Saya bersyukur, kalau bukan karena jasa mas itu saya tidak akan bisa masuk ke dalam kereta.
Sampai di Stasiun jatinegara saya turun dari kereta dan langsung masuk kereta tujuan akhir Bogor yang melewati stasiun Tn.Abang. Keretanya sudah menunggu di jalur 5. Kosong dan lapang. Tidak berapa lama kereta saya sudah berangkat. Saya duduk dan melihat-lihat rute kereta yang terpampang di atas pintu masuk. Ternyata cukup panjang jalan dan banyak stasiun yang harus saya tempuh untuk mencapai Tn.Abang. Rute kereta agak ‘memutar’. Perkiraan saya, saya akan telat kalau saya turun di Tn. Abang dengan rute ini. Akhirnya saya putuskan untuk turun di Senen. Setelah sampai di stasiun senen saya bergegas mencari bajaj dan menawar. Saya tawar 12 ribu rupiah sampai ke kantor. Tukang bajajnya gak mau. Lalu, saya jalan lagi menuyusuri jalan untuk menawar bajaj yang lain. Tetot! Saya baru sadar. Uang didompet kayaknya tinggal 10 ribu dan beberapa ribu recehan |Untung tadi abangnya gak mau, kalo mau, gue bayar pake apaa??| Dengan lelah saya mencari mesin ATM di Pasar Senen. Saya menggunakan ATM bersama dan saya melakukan kesalahan lagi. Saya malah menekan pilihan Rp1.000.000. Gubrak. Untuk apa saya ambil duit segitu banyak! Tapi mesin ATM udah mengeluarkan uangnya, terlanjur. Sepertinya otak saya menyempit karena telalu sesak di kereta tadi -______-“. Saya berjalan keluar dan mencari bajaj (lagi).
17 ribu mba.
12 ribu deh
Udah 15 ribu deh mbak
Oke deh, tapi uang saya 100ribu ya..
Yah, baru keluar nih, Mbak. Ga punya kembalian.
Yah,yaudah..saya Cuma punya 12 ribu paling.
Yaudah deh, gapapa.
Sampai di depan kantor saya turun dan memberikan uang selembar sepuluh ribuan, selembar seribuan, dan 4 koin lima ratusan hasil korek-korek tas dan dompet. Jadi totalnya, Rp 13.000,-, lebih seribu rupiah dari harga awal. Tapi, karena abangnya baik dan tidak mengeluh, saya rela memberikan semua recehan saya. Hehehe. Akhirnya sampai di kantor Pk 08.13 WIB. Kemarin, saya sampai di kantor Pk 08.12 dengan rute berbeda. -____-“. Lelaaah sekaliii. That was something I called : Gu-brak.
Life is so meaningful today. *Sigh*




